Syahdan, sufi masyhur itu menyusuri jalan-jalan kota Baghdad yang
hiruk-pikuk. Dia menjinjing seember air dan sebuah obor. Ketika ditanya
hendak kemana, dia menjawab enteng: “Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air!“
Konon, Rabiah al-Adawiyah, sang sufi itu, resah tentang tingkat
ketulusan manusia dalam beribadah. Mereka hanya ingin meraih surga dan
mengelak neraka. Pendeknya, beribadah dengan iming-iming tertentu. Bagi
Rabiah, itu sama saja dengan mental para budak. Agar dapat menanam
ketulusan, Rabiah tergerak membuang iming-iming yang ia anggap telah
menggerus nilai ketulusan.
Ambisi Rabiah itu kini kontras belaka dengan penyempitan makna ibadah
itu sendiri oleh kaum beragama. Ibadah hanya dimaknai sekedar rutinitas,
“pelengkap” rukun Islam, mengikuti “trend” kondisi lingkungan
sosialnya, atau bahkan (yang lebih parah lagi) karena warisan orang tua.
Sebuah kontradiksi luar biasa antara Rabiah yang tak berharap apa-apa
dan mereka yang langsung terobsesi akan surga, kita telah terpampang
nyata.
Penyempitan ini tidak hanya terjadi pada konteks ke-Indonesiaan, namun
sudah merambah pada tataran global. Islam yang sekedar dimaknai sebagai
identitas, tak mampu dimaknai lebih dalam sehingga mampu
diinternalisaskan oleh para penganutnya. Dan hari ini, yang terjadi
adalah sikap diam Islam itu sendiri dalam menatap realitas sosial (syari’ah). Dimensi horizontal (syari’ah)
yang justru bersinggungan langsung dengan Islam sebagai agama, tak
mampu dijadikan sebagai sebuah spirit untuk merubah tatanan status quo
yang dibuat oleh “penguasa”. Padahal dalam sejarahnya, Islam hadir ke
dunia justru dari konteks sosial yang berkembang di tengah masyarakat
Arab jahiliyah. Namun, kini dimensi sosial tersebut terpinggirkan oleh
dimensi transendental umat Islam.
Beberapa isu terkait permasalahan kemiskinan, kebodohan, korupsi, sampai
perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia tak mampu dijawab oleh
Islam. Ungkapan yang sangat menggelitik muncul dari seorang pemudi yang
tengah memadu kasih dengan seorang pemuda di taman Sekartaji (Kediri), “Sholat iki yo ben diurusi karo wong-wong pondok to mas.”
Sebuah perkataan bermakna ironis terlontar dari sosok pemudi, namun
ungkapan tersebut sangat jujur. Melihat fakta bahwasannya Islam hari ini
menunjukkan eksklusifitasnya dengan mewujud hanya di ruang-ruang
pondok, masjid, atau tempat pengajian. Mereka yang berada di luar
tempat-tempat tersebut, kini tidak mempunyai “rasa memiliki” akan
hadirnya agama di dimensi sosial. Lalu, bagaimanakah peran agama dapat
menjawab problem sosial jika hari ini agama bersifat eksklusif? Dan
apakah ibadah yang dimaksud oleh Rabiah atau Muhammad hanya melulu
terbatas pada aktivitas sholat, puasa, atau membaca al-Qur’an?
Andai Rabiah masih hidup, dia tentu akan lebih paham betapa bahayanya
imajinasi tentang surga itu. Sebab, bagi dia, tujuan akhir ibadah tak
lain agar kelak dapat menatap wajah, mendapat ridha, dan cinta Sang
Terkasih. Prinsip ibadah Rabi’ah adalah cinta, keikhlasan, dan ketulusan
hati. Ibadah tanpa imbalan. Karena itu, dalam sebuah puisi nan
romantis, Rabiah bersenandung: “Jika aku menyembah-Mu karena
berharap surga/jauhkanlah surga itu dariku/jika aku menyembah-Mu karena
takut akan neraka/masukkanlah aku ke dalamannya.”
Antusiasme ibadah seperti itu kini disenandungkan seorang dalang wayang Suket ternama kita, Ki Slamet Gundono. Dalam kidung Mabuk Gusti,
manusia digambarkan beribadah hingga teler sehingga dia tak peduli lagi
akan imbalan dan ganjaran. Disinilah kita perlu mendalami hakikat surga
(Arab: jannah). Dalam al-Mu’jam al-Wasith, kata jannah berpadan makna dengan hadiqah dan bustan.
Semuanya punya makna dasar, yaitu kebun. Konon, dalam panorama alam
masyarakat Arab yang dipenuhi padang pasir nan tandus dan kering, kebun
adalah imajinasi terindah dan sangat diidamkan.
Surga juga digambarkan seperti griya kenikmatan (darun na’im)
yang kelak akan dijumpai di akhirat. Disana ada pepohonan rindang,
kuntuman bunga, sungai-sungai, serta lautan madu dan susu yang mengalir
tiada henti. Disana juga tersedia bidadari-bidadari nan cantik jelita
dan senantiasa siap melayani; sebuah gambaran yang sangat material
sekaligus membangkitkan gairah.
Tapi, sungguh mengherankan, banyak juga orang yang mengutuk kenikmatan
duniawi demi meraih kenikmatan surgawi. Mereka tidak berpikir hidup di
dunia adalah juga amanah untuk membangun surga yang di sini dan di dunia
kini. Mereka lebih senang mendekat kepada jinnah (Arab: kegilaan) daripada jannah.
Surga juga telah membuat sebagian orang menjadi gila. Membunuh diri
sendiri dan orang lain merupakan aktualisasi kegilaan akan surga
tersebut. Kegilaan itu pula yang tampak ampuh mematikan nalar dan nurani
mereka. Rasanya, jika ini yang terjadi, saya merasa harus nunut dan
mendukung Rabiah untuk membakar surga.