Home » » Khayalan Itu Bernama Surga

Khayalan Itu Bernama Surga

Written By Unknown on Thursday, March 08, 2012 | Thursday, March 08, 2012

Syahdan, sufi masyhur itu menyusuri jalan-jalan kota Baghdad yang hiruk-pikuk. Dia menjinjing seember air dan sebuah obor. Ketika ditanya hendak kemana, dia menjawab enteng: “Aku hendak membakar surga dengan obor dan memadamkan neraka dengan air!

Konon, Rabiah al-Adawiyah, sang sufi itu, resah tentang tingkat ketulusan manusia dalam beribadah. Mereka hanya ingin meraih surga dan mengelak neraka. Pendeknya, beribadah dengan iming-iming tertentu. Bagi Rabiah, itu sama saja dengan mental para budak. Agar dapat menanam ketulusan, Rabiah tergerak membuang iming-iming yang ia anggap telah menggerus nilai ketulusan.

Ambisi Rabiah itu kini kontras belaka dengan penyempitan makna ibadah itu sendiri oleh kaum beragama. Ibadah hanya dimaknai sekedar rutinitas, “pelengkap” rukun Islam, mengikuti “trend” kondisi lingkungan sosialnya, atau bahkan (yang lebih parah lagi) karena warisan orang tua. Sebuah kontradiksi luar biasa antara Rabiah yang tak berharap apa-apa dan mereka yang langsung terobsesi akan surga, kita telah terpampang nyata.

Penyempitan ini tidak hanya terjadi pada konteks ke-Indonesiaan, namun sudah merambah pada tataran global. Islam yang sekedar dimaknai sebagai identitas, tak mampu dimaknai lebih dalam sehingga mampu diinternalisaskan oleh para penganutnya. Dan hari ini, yang terjadi adalah sikap diam Islam itu sendiri dalam menatap realitas sosial (syari’ah). Dimensi horizontal (syari’ah) yang justru bersinggungan langsung dengan Islam sebagai agama, tak mampu dijadikan sebagai sebuah spirit untuk merubah tatanan status quo yang dibuat oleh “penguasa”. Padahal dalam sejarahnya, Islam hadir ke dunia justru dari konteks sosial yang berkembang di tengah masyarakat Arab jahiliyah. Namun, kini dimensi sosial tersebut terpinggirkan oleh dimensi transendental umat Islam.

Beberapa isu terkait permasalahan kemiskinan, kebodohan, korupsi, sampai perang yang berkecamuk di berbagai belahan dunia tak mampu dijawab oleh Islam. Ungkapan yang sangat menggelitik muncul dari seorang pemudi yang tengah memadu kasih dengan seorang pemuda di taman Sekartaji (Kediri), “Sholat iki yo ben diurusi karo wong-wong pondok to mas.” Sebuah perkataan bermakna ironis terlontar dari sosok pemudi, namun ungkapan tersebut sangat jujur. Melihat fakta bahwasannya Islam hari ini menunjukkan eksklusifitasnya dengan mewujud hanya di ruang-ruang pondok, masjid, atau tempat pengajian. Mereka yang berada di luar tempat-tempat tersebut, kini tidak mempunyai “rasa memiliki” akan hadirnya agama di dimensi sosial. Lalu, bagaimanakah peran agama dapat menjawab problem sosial jika hari ini agama bersifat eksklusif? Dan apakah ibadah yang dimaksud oleh Rabiah atau Muhammad hanya melulu terbatas pada aktivitas sholat, puasa, atau membaca al-Qur’an?

Andai Rabiah masih hidup, dia tentu akan lebih paham betapa bahayanya imajinasi tentang surga itu. Sebab, bagi dia, tujuan akhir ibadah tak lain agar kelak dapat menatap wajah, mendapat ridha, dan cinta Sang Terkasih. Prinsip ibadah Rabi’ah adalah cinta, keikhlasan, dan ketulusan hati. Ibadah tanpa imbalan. Karena itu, dalam sebuah puisi nan romantis, Rabiah bersenandung: “Jika aku menyembah-Mu karena berharap surga/jauhkanlah surga itu dariku/jika aku menyembah-Mu karena takut akan neraka/masukkanlah aku ke dalamannya.”

Antusiasme ibadah seperti itu kini disenandungkan seorang dalang wayang Suket ternama kita, Ki Slamet Gundono. Dalam kidung Mabuk Gusti, manusia digambarkan beribadah hingga teler sehingga dia tak peduli lagi akan imbalan dan ganjaran. Disinilah kita perlu mendalami hakikat surga (Arab: jannah). Dalam al-Mu’jam al-Wasith, kata jannah berpadan makna dengan hadiqah dan bustan. Semuanya punya makna dasar, yaitu kebun. Konon, dalam panorama alam masyarakat Arab yang dipenuhi padang pasir nan tandus dan kering, kebun adalah imajinasi terindah dan sangat diidamkan.

Surga juga digambarkan seperti griya kenikmatan (darun na’im) yang kelak akan dijumpai di akhirat. Disana ada pepohonan rindang, kuntuman bunga, sungai-sungai, serta lautan madu dan susu yang mengalir tiada henti. Disana juga tersedia bidadari-bidadari nan cantik jelita dan senantiasa siap melayani; sebuah gambaran yang sangat material sekaligus membangkitkan gairah.

Tapi, sungguh mengherankan, banyak juga orang yang mengutuk kenikmatan duniawi demi meraih kenikmatan surgawi. Mereka tidak berpikir hidup di dunia adalah juga amanah untuk membangun surga yang di sini dan di dunia kini. Mereka lebih senang mendekat kepada jinnah (Arab: kegilaan) daripada jannah. Surga juga telah membuat sebagian orang menjadi gila. Membunuh diri sendiri dan orang lain merupakan aktualisasi kegilaan akan surga tersebut. Kegilaan itu pula yang tampak ampuh mematikan nalar dan nurani mereka. Rasanya, jika ini yang terjadi, saya merasa harus nunut dan mendukung Rabiah untuk membakar surga.
Share this article :