| SURYANDORO DAN DEWI SULASTRI |
Bagaimana menghadirkan wayang orang di tengah kehidupan masyarakat
Indonesia kini? Pasangan suami-istri Suryandoro dan Dewi Sulastri lewat
kelompok Swargaloka konsisten menyuguhkan wayang orang dalam bahasa
Indonesia selama 15 tahun terakhir.
”Menangislah Kunti, mengalirlah air matamu sebagaimana kulihat amarah mengalir di Kurusetra....”
Itulah
sebagian dari narasi yang diucapkan dalam pergelaran wayang orang
Swargaloka. Ujaran atau suluk yang terbiasa dibawakan dalam bahasa Jawa
itu dialihkan dalam bahasa Indonesia dengan tetap mempertahankan nilai
sastranya.
Begitulah Suryandoro (46) dan Dewi (46) menyuguhkan
wayang bagi masyarakat. Pertunjukan wayang orang yang biasanya berdurasi
sekitar empat jam diringkas menjadi 90 menit. Tak sekadar
mengalihbahasakan dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia, drama wayang
juga mereka beri sentuhan garapan musik modern, yang sesekali diselipi
irama rap hingga blues.
”Kami ditantang untuk menghidupkan
wayang. Kami ingin ada pembaruan dalam seni tradisional agar tak
ditelan zaman. Melestarikan dalam pengertian selain menjaga nilai-nilai
wayang, kami juga berusaha mengembangkannya,” ujar Suryandoro.
Wayang
orang garapan Suryandoro dan Dewi rupanya mendapat tanggapan dari
penonton di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) sejak tahun 1997. Di
sinilah Swargaloka berpentas secara rutin. Dengan berbahasa Indonesia,
wayang orang terbukti bisa dinikmati semua warga Indonesia.
Kini
drama wayang Swargaloka tampil di TMII. Pada setiap pertunjukan mereka,
lebih dari 50 persen kursi penonton terisi. Tiap kali pertunjukan
digelar, Swargaloka didukung 60-75 pemain yang mayoritas kaum muda dari
Yogyakarta dan Surakarta. Swargaloka bahkan pernah tampil di
Banjarmasin, Kalimantan Selatan, dan mendapat tepuk tangan lebih dari
2.000 penonton.
Namun, pertunjukan wayang orang berbahasa
Indonesia bukannya tanpa masalah. Kendala utama pemain adalah rasa
kagok saat mereka harus berdialog dalam bahasa Indonesia. Sebab,
mayoritas pemeran wayang orang Swargaloka lekat dengan naskah wayang
beserta cengkok bahasa Jawa.
”Awalnya memang terkesan lucu,” kata Suryandoro.
Namun,
seiring berjalannya waktu, kendala itu bisa diminimalkan. Kini pemain
merasa terbiasa memerankan tokoh wayang dengan dialog bahasa Indonesia.
Setelah masalah kebiasaan memainkan wayang orang berbahasa Indonesia
teratasi, penguatan karakter peran masing-masing pemain pun diutamakan.
Lakon
yang diperankan dalam wayang orang Swargaloka umumnya disesuaikan
dengan kondisi bangsa. Seusai peristiwa kerusuhan Mei 1998, misalnya,
Swargaloka menampilkan karya dari naskah Sutasoma yang berkisah tentang
pentingnya kerukunan.
Jual rumah
Yayasan
Swargaloka didirikan di Yogyakarta tahun 1993. Suryandoro dan Dewi
membawa Swargaloka ke Jakarta dengan pementasan perdana berjudul ”Api
Dendam Aswatama” tahun 1997. Konsep pemanggungan wayang orang dibuat
Suryandoro, sedangkan Dewi menjadi pemeran utama.
Pada tahun yang
sama, Dewi hijrah ke Jakarta setelah ia menyelesaikan perjalanan ke
Jepang sebagai duta tari tradisional dalam tim Kesenian Pelangi
Nusantara. Ia lalu aktif menjadi penari di Istana dan Suryandoro pun
pindah ke Jakarta menjadi anggota staf bidang budaya di TMII.
Setelah
tahun 1999, pementasan Swargaloka sempat tersendat-sendat selama
hampir sembilan tahun karena kendala dana. Suryandoro dan Dewi sampai
harus menjual rumah mereka demi membiayai kelangsungan wayang orang
Swargaloka.
”Kami sempat vakum menampilkan karya besar, tetapi karya berbentuk fragmen tetap ditampilkan,” kata Suryandoro.
Dewi
menambahkan, hasil penjualan tiket pertunjukan senilai minimal Rp
100.000 per orang hanya bisa mencukupi sekitar 30 persen dari total
kebutuhan dana operasional Swargaloka. ”Biayanya Rp 100 juta untuk
sekali naik panggung,” ujarnya.
Mereka pernah mendapat tawaran
tampil di layar kaca, tetapi tawaran itu ditolak. Alasannya, konsep
acara wayang orang yang ditawarkan kala itu dinilai merusak wibawa
pertunjukan wayang orang.
Swargaloka berusaha konsisten
menampilkan wayang orang yang mengedepankan nilai luhur ajaran
kehidupan. ”Wayang itu punya wibawa sendiri. Wayang tak bisa dilecehkan
karena ada ajarannya,” kata Suryandoro.
Baginya, wayang orang
adalah pertunjukan yang mengandung unsur seni yang komplet, mulai dari
seni tari, musik, seni suara (tembang), drama, tata rias, seni dekorasi,
sampai tata busana.
”Watak dan karakter wayang orang sejatinya
mencerminkan kepribadian kita. Wayang memiliki makna sebagai wewayanging
ngaurip atau gambaran kehidupan. Oleh karena itu, pentas wayang orang
tak sekadar tontonan, tetapi mengandung tuntunan,” katanya.
Sejak kecil
Pertalian
Suryandoro dengan wayang orang dimulai sejak masih kecil. Ia belajar
menari dan menabuh gamelan. Selama 15 tahun sejak berusia tujuh tahun,
ia terlibat pementasan di panggung terbuka Ramayana Prambanan, Jawa
Tengah. Ia antara lain pernah tampil di depan Raja Thailand.
Di
Jurusan Tari SMKI Surakarta, Suryandoro mulai tampil bareng Dewi dalam
pergelaran wayang orang. Ia juga belajar menulis naskah, merancang
kemasan, dan memproduksi wayang orang berjudul ”Memolo Cupu Manik
Astagina”.
Karyanya itu meraih penghargaan pada Festival Wayang
Orang Tingkat Nasional (WOPA) pertama di Surakarta. Pada festival ini
pula, Dewi menjadi sutradara terbaik.
Sedangkan Dewi lekat dengan
wayang, antara lain, karena ia adalah cucu seorang dalang di Jepara. Ia
menjadi pesinden sejak duduk di kelas VI SD. Ia lalu menekuni tari
saat melanjutkan sekolah di SMKI Surakarta dan Institut Seni Indonesia
Yogyakarta. Pada festival WOPA ke-2, ke-3, dan ke-4, Dewi meraih
penghargaan sebagai pemain terbaik perempuan.
Meski tak mudah,
suami-istri ini kompak bahu-membahu melestarikan wayang orang sesuai
kebutuhan dan gaya hidup zaman. Bagi mereka, wayang orang tetap
mempunyai dinamika dan kemampuan berdialog dengan zaman yang berubah.
Wayang orang bukanlah milik masa lalu.
”Cita-cita saya adalah menjadikan wayang orang sebagai opera terbaik di dunia,” kata Suryandoro.