Ngambar…
gandane arum sekar/ Mulata aku memanismu, hanyengsemake janggaku/
Kombang…mbrengengeng arum, angreridu sekar/ Sumilir silir maruta,
hangingsep sarining sariku…// Mbang-mbang kembang, mbang-mbang kombang/
Terate bang kumambang linulad dening kombang/ Mlathi kinanthi,
kanthil-kuranthil, hangujiwati kombang, mbang kembang/ Kombang-kembang
wus nyawiji...
Tembang Jawa yang didahului bawa (intro)
melodius itu semula mengalun empuk, lembut, lalu meniti nada tinggi,
meliuk, menghanyutkan kalbu. Ditingkah ketukan perkusi dan petikan gitar
yang bergairah. Tembang itu diikuti improvisasi vokal panjang bernada
sopran, lengkingan tinggi, memekik, kadang mirip jeritan, ”ndremimil”
seperti bernyanyi asal bunyi.
Audiens takjub dengan permainan
vokal Peni Candra Rini dalam nomor ”Sekar”. Ia berkolaborasi dengan
kelompok Sentana pada Parkiran Jazz di Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis
(29/3) malam.
Kekuatan teknik vokal Peni yang lentur,
menggabungkan nada pentatonik dan diatonik secara terjaga, berkelindan
padu dengan petikan gitar Fay Ehsan, Kiky (bas), dan perkusi oleh
Plenthe. Mereka menyuguhkan repertoar jazz yang segar.
Permainan vokal Peni
membuktikan
bahwa vokal memiliki kekuatan mandiri. ”Saya bukan penyanyi jazz,”
tuturnya seraya mengakui ia tak terlalu tahu lagu-lagu jazz. Dengan
latar belakang vokalis karawitan alias pesinden, ia melihat dalam jazz
selalu ada keterhubungan dan dialog antar- instrumen.
Filosofi
jazz inilah yang ditawarkan sejumlah seniman jazz di Amerika Serikat
kepada Peni saat ia memperdalam pengetahuan bidang komposisi musik
lewat hibah dari Asian Cultural Council di California Institute of the
Arts (CalArts), September 2011-Februari 2012.
Peni adalah
pengajar Jurusan Karawitan pada Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta
untuk mata kuliah vokal, notasi, dan komposisi musik. Ia menjadi dosen
sejak lulus program pascasarjana di almamaternya, tahun 2008.
Atas
dorongan musisi jazz Susan Allen (AS) dan Roman Stolyar (Rusia), Peni
terlibat dalam forum-forum jazz seperti improvisasi ansambel jazz atau
free jazz di kampus. Mereka melihat Peni sebagai vokalis solo berlatar
belakang tradisi karawitan Jawa yang unik.
”Karakter pesinden
berbeda dengan penyanyi sopran atau seriosa dalam musik Barat,” ungkap
Peni yang membuat eksperimen vokal dengan beragam karakter vokal dari
Papua, Kalimantan, Padang, dan Jawa.
Kehadiran Peni selama di AS
merebut hati komunitas seniman musik negeri itu. Tak terbilang
aktivitas seni kreatif yang dia lakoni. Selain berkuliah di bidang
komposisi musik, ia juga diminta mengajar kelas gamelan dan vokal
(sinden) di CalArts. Ia pun menjadi seniman tamu di kampus lain,
seperti Cornish College of the Arts, University of Portland, dan
University of Richmond.
”Saat pentas di Richmond, saya membawakan
repertoar ’Lintang’ dan ’Manik Jejantung’, banyak penonton menangis.
Penonton bilang, walau mereka tak tahu arti teksnya, tetapi bisa
menangkap ’rasa’ dalam komposisi itu,” tuturnya.
Peni
menambahkan, Meredith Monk, komposer musik klasik, mengajarinya
konsep, ”Menyanyilah dengan tubuhmu dan menarilah dengan suaramu.”
Bagi
Peni, konser gamelan bersama kelompok Kusuma Laras dan Rob Kapilow di
Teater Lincoln Center, New York, 14 November 2011, sebagai satu puncak
pencapaiannya. Perasaan serupa dia alami saat pentas di Poncho Hall,
Cornish College of the Arts, dan workshop bersama Gamelan Pacifica,
kelompok gamelan di AS. Di negeri itu ada lebih dari 400 kelompok
gamelan.
Meluruskan
Lebih dari
pesinden, Peni bisa disebut satu dari sedikit perempuan komposer
berlatar belakang musik tradisi di Tanah Air. Dengan riwayat pendidikan
dan vokalis karawitan, ia mungkin satu-satunya komposer yang lebih
menekankan kekuatan vokal dalam komposisi musik yang dibuatnya.
Instrumen lebih sebagai pengiring.
Sejak dididik ayahnya, dalang
wayang kulit Wagiman Gandacarita, belajar di Sekolah Menengah Karawitan
Indonesia (SMKN 8) di Solo, lalu kuliah di Jurusan Karawitan ISI
Surakarta, ia diposisikan sebagai pesinden. Namun, ia lulus sebagai
pengrawit yang menguasai semua instrumen gamelan dan penyusun komposisi
musik.
Karawitan adalah budaya tradisi yang kuat, karena itu ia
mendedikasikan diri demi pelestariannya. Ia menguasai komposisi, baik
karawitan yang pakem maupun kontemporer.
”Musik gamelan itu
lentur, bisa digarap seperti apa pun tergantung ide kita. Eksperimen
tidak merusak, tetapi kita harus bisa menempatkan karya itu sesuai
kebutuhannya. Dengan begitu, kita memberikan penghargaan dan mengangkat
derajat gamelan. Kalau tak disentuh, gamelan hanya menjadi barang
antik,” paparnya.
Namun, ia ingin meluruskan definisi ”pesinden”
yang salah kaprah. Pesinden, kata Peni, adalah vokalis dalam ansambel
gamelan yang pentatonik. ”Penampilan penyanyi pada program televisi
yang disebut ’pesinden’ itu salah. Itu pembodohan publik. Mereka
penyanyi pop yang membawakan musik diatonik, cuma mengolah cengkok vokal
ala pentatonik.”
Sejak usia 13 tahun, Peni menjadi pesinden,
membantu sang ayah di Desa Ngentron, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten
Tulungagung. Kemampuan nyinden dia peroleh dari proses olah rasa yang
panjang. ”Tak mudah menjadi pesinden, kita harus menjalani inisiasi dan
dilantik dalam suatu upacara.”
Ia hidup dalam lingkungan
tradisi yang kuat. Sejak berusia 5 tahun, ia diajari ayahnya teknik
vokal sinden seperti cengkok, gregel, wilet, laras pelog, dan slendro.
Teknik tersulit dalam vokal sinden adalah menggabungkan suara luar dan
suara dalam, atau sorogan (falsetto).
”Saya dilatih
mengeluarkan suara dalam nada tinggi, sampai otot di leher keluar.
Bapak menyiapkan uang Rp 100 dan lidi. Kalau saya berhasil, diberi
uang, tetapi kalau tak bisa, digebuk lidi,” cerita bungsu dari tiga
bersaudara ini.
Untuk belajar sinden dengan iringan gender, ia dan ayahnya menempuh dua jam perjalanan ke Tulungagung dengan sepeda motor.
Ketika
duduk di kelas I SD, Peni didaftarkan ikut lomba macapat perayaan 17
Agustus, dan menang. Tradisi ikut lomba itu berulang setiap tahun dari
tingkat kecamatan, kabupaten, lalu provinsi. Ia selalu meraih juara
satu. Sejak SMP ia mendapat beasiswa dan tunjangan Rp 60.000 per
bulan. Ini amat membantu ekonomi keluarganya.
Sejak SMP dia
sering diminta sebagai pesinden, untuk mengiringi pentas wayang kulit
dan klenengan. Ia membiayai sendiri pendidikannya sejak di sekolah
menengah. Namun, ia lalu memilih mengeksplorasi vokal sindenan yang
terbuka luas.
”Menjadi komposer sekaligus pemusik jadi pilihan
hidup saya, ide-ide terus bermunculan,” ungkap Peni. Ia berharap suatu
saat bisa menggelar konser yang menampilkan komposisinya.
(Ardus M Sawega Wartawan di Solo)
