Pada tahun 1968, surat keputusan menteri pendidikan, pengajaran, dan
kebudayaan menetapkan angklung sebagai alat pendidikan musik di
sekolah-sekolah. Sejak itu pula, angklung seharusnya sudah menjadi bahan
pengajaran di berbagai jenjang pendidikan di Indonesia.
Namun,
kini, 44 tahun kemudian, upaya menghidupkan kembali angklung sebagai
alat musik bambu asli Indonesia belum menunjukkan hasil. Sekolah-sekolah
masih sepi angklung. Bahkan, di Bandung, Jawa Barat, tempat asal muasal
angklung di Indonesia, jumlah sekolah yang benar-benar mengajarkan alat
musik itu bisa dihitung dengan jari.
”Angklung adalah alat musik
bambu asli Indonesia yang sudah dikenal sejak berabad-abad lalu. Upaya
pelestarian angklung dengan cara menghidupkannya kembali sebagai alat
musik tidak pernah terwujud. Angklung hanya dikomodifikasi sebagai alat
pencitraan politik,” kata Handiman Diratmasasmita (73) beberapa waktu
lalu.
Handiman pantas merasa khawatir. Sebagai satu-satunya
penerus angklung hasil inovasi almarhum Pak Daeng, ia melihat tidak
banyak lagi orang memainkan angklung. Di negerinya sendiri, angklung
dianggap sebagai alat untuk sekadar bermain bunyi-bunyian, bukan sebagai
alat musik yang serius dimainkan.
Angklung Pak Daeng bermula
tahun 1938 ketika Daeng Soetigna, guru di Sekolah Rakyat Kuningan, Jawa
Barat, menginovasi angklung berlaras pentatonik menjadi diatonik. Dengan
laras diatonik, angklung bisa dimainkan sebagai alat musik modern
sesuai dengan komposisi lagu modern, seperti pop, keroncong, lagu klasik
barat, dan rock.
Handiman adalah satu-satunya murid Pak Daeng
yang ahli membuat angklung. Di antara empat murid langsung Pak Daeng,
termasuk almarhum Udjo Ngalagena pendiri Saung Angklung Udjo, hanya
Handiman yang menekuni pembuatan angklung. Namun, angklung produksi
Handiman berbeda dengan lainnya karena dibuat benar-benar untuk
keperluan bermusik.
Untuk keperluan itu, Handiman meriset
nada-nada dari angklung ciptaannya. Setiap jenis lagu yang akan
dimainkan, seperti lagu pop, rock, keroncong, atau lagu klasik,
membutuhkan jenis bambu yang berbeda pula. Karena itu, riset sangat
dibutuhkan.
Sebatas euforia
Handiman
melihat gerakan pemerintah untuk melestarikan angklung sebagai alat
musik bambu asli Indonesia hanya euforia. Angklung dimainkan di
mana-mana, tetapi sekadar sebagai alat demonstrasi cara bermain
angklung.
Tahun 2011, misalnya, sebanyak 5.000 angklung
diterbangkan ke Washington DC, Amerika Serikat, untuk dimainkan secara
massal demi memecahkan rekor dunia. Beberapa bulan kemudian, 10.000
angklung diproduksi oleh perajin angklung di Bandung dan dimainkan untuk
kepentingan yang sama.
”Tidak ada yang pernah menciptakan
komposisi lagu menggunakan angklung, seperti halnya piano, gitar,
keyboard, atau alat musik lainnya,” kata Handiman. Di Jepang dan
beberapa negara Eropa lainnya, angklung sudah diteliti, kemudian
dipelajari untuk menciptakan komposisi lagu.
Handiman pernah
didatangi seorang profesor musik dari Jepang yang meminta dibuatkan
angklung. Ahli etnomusikolog itu kemudian meneliti dan mempelajari
angklung buatan Handiman untuk menciptakan komposisi musik. Beberapa
musikolog dari negara lain juga menggunakan angklung Handiman untuk
bermusik.
Kecintaan Handiman terhadap angklung dimulai sejak
kecil. Ia mengenal angklung dari Pak Daeng ketika mengikuti kegiatan
Kepanduan (Pramuka) tahun 1938. Pak Daeng tidak hanya mengajarkan
bermusik dengan angklung, tetapi juga mengajarkan cara membuat angklung.
”Pada waktu itu kami membuat angklung untuk kebutuhan sendiri
(Pramuka),” kenangnya.
Oleh gurunya, Handiman diajak keluar-masuk
hutan bambu di berbagai pelosok daerah di Jawa Barat, untuk memilih
jenis dan struktur bambu yang bagus untuk angklung. ”Saya diajarkan
bagaimana memilih bambu dan mengetahui ilmu tentang bambu sebelum
membuat angklung,” ujar Handiman.
Proses membuat angklung alat
musik tak mudah. Dibutuhkan hampir satu tahun semenjak bambu ditebang,
dijemur, lalu disimpan agar bambu kering. Penyimpanan ini sekaligus
untuk menguji apakah bambu dimakan mikroorganisma yang bisa membuat
bambu lapuk.
Demi mempertahankan kualitas angklung buatannya,
Handiman masih sering pergi ke daerah terpencil untuk mendapatkan bambu
berkualitas. Seluruh daerah di pesisir pantai selatan Jawa Barat sudah
habis dijelajahi. Demikian juga dengan kebun-kebun bambu milik
masyarakat di daerah Cirebon, Tasikmalaya, Majalengka, Garut, Kuningan,
dan Sumedang (seluruhnya di Jawa Barat).
Karena proses produksi
yang lama, dalam sebulan Handiman hanya bisa membuat satu unit angklung,
terdiri dari 100-130 angklung melodi, akompanyemen (akord), dan
ko-akompanyemen. Setiap hari ia ikut bekerja di bengkel kerja sekaligus
rumahnya, di Jalan Surapati, Bandung.
Selain menyetel nada pada
tabung resonansi angklung, ia juga terus meneliti jenis-jenis nada
tertentu, disesuaikan dengan jenis bambu. Pada beberapa produknya yang
berkualitas sangat tinggi, ia membubuhkan tanda tangan.
Tantangan
yang dihadapi angklung, menurut Handiman, adalah tidak ada generasi
penerus yang bisa membuat angklung sebagai alat musik. ”Kalau sekadar
dimainkan sih, pembuatnya banyak. Namun, pembuat angklung untuk alat
musik sangat jarang,” kata Handiman.
Keprihatinan ini membuat
Handiman bergerak memberikan pelatihan-pelatihan cara memproduksi
angklung sebagai alat musik di daerah Bandung, termasuk di Saung
Angklung Udjo. Setiap tiga bulan sekali, ia juga membuat sarasehan
tentang angklung untuk berbagi ilmu dengan perajin lainnya. Namun, ia
belum mendapatkan penerus yang bisa dan mau benar-benar mempelajari cara
membuat angklung dengan benar.
Menurut Handiman, rata-rata
perajin mengejar produksi angklung tanpa memperhatikan kualitas. Pembuat
angklung alat musik sebaiknya perajin yang bisa memainkan angklung
sehingga ia bisa menyetel nada dengan benar.
Tantangan lainnya
adalah semakin langkanya jenis bambu untuk angklung. Bambu terbaik untuk
angklung antara lain bambu temen (Gigantochloa atter), bambu wulung
(Gigantochloa atroviolacea), bambu lengka (Gigantochloa hasskarliana),
dan bambu tali (Gigantochloa apus Kurz).
Sekarang ini, lanjutnya,
tidak banyak petani bambu yang mau menanam jenis-jenis bambu untuk
angklung. Mereka lebih memilih menanam jenis bambu lain untuk keperluan
pembuatan sumpit, perabotan rumah, atau bangunan rumah karena pembelinya
lebih banyak daripada produsen angklung.
Lusiana Indriasari
